Monday, September 28, 2009

Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara, A FuadiJudul : Negeri 5 Menara
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama,
Edisi : Cetakan I, Agustus 2009, 432 hlm


Judulnya unik dan mengundang rasa ingin tahu. Gambar sampulnya menggambarkan 5 buah menara yang berbeda-beda – monas, bigben di London, monumen Washington, dan 2 buah menara masjid yang aku belum tahu masjid mana - semakin membuat bertanya-tanya, "Cerita tentang negeri apakah ini?". Deskripsi di sampul belakang kemudian menjelaskan lebih jauh tentang isi novel ini. Kisah dari dunia pesantren. Dunia yang dekat dengan masa kecilku tapi belum pernah aku masuki dengan sepenuhnya.

Aku pun ingin tahu lebih dalam, sejauh mana dunia itu bisa ditampilkan secara menarik dalam sebuah novel. Dengan embel-embel sekian banyak endorsement positif dari tokoh-tokoh terkenal, dari mantan presiden hingga artis, tampaknya novel ini cukup dijagokan oleh penerbitnya.

Sahibul Menara

Alif Fikri adalah seorang putra Minangkabau asal desa Bayur di pinggir danau Maninjau, Bukittinggi yang baru saja lulus dari madrasah Tsanawiyah. Dengan kecerdasannya ia ingin melanjutkan ke sekolah umum agar bisa mengejar cita-citanya menjadi seperti Habibie. Namun ternyata orang tuanya berkeinginan ia tetap di jalur sekolah agama agar ia menjadi seperti Buya Hamka. Dalam tekanan dan kebimbangan akhirnya Alif memutuskan untuk mengikuti kemauan orang tuanya tetap di sekolah agama, asal tidak di Bukittinggi. Ia memilih untuk menjadi santri di Pondok Madani (PM) di Ponorogo, Jawa Timur.

Di PM yang dikenal sebagai "pondok modern" Alif menemukan kehidupan pesantren yang berbeda dari kesehariannya dan juga sedikit berbeda dari tipikal pesantren pada umumnya. Selain dituntut ketekunan dan kemandirian, PM juga menuntut kedisiplinan tinggi. Peraturan Qanun dengan 13 butir aturan sehari-hari yang harus dihafal luar kepala dengan jadwal harian ketat yang diatur oleh bunyi lonceng mengendalikan kegiatan setiap penghuni PM. Penghuni baru PM juga harus bisa segera menguasai bahasa Arab dan Inggris dalam 3 bulan, karena setelah itu sama sekali tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia lagi.

Di hari-hari pertamanya, Alif sudah harus terkena hukuman karena terlambat ke masjid bersama 5 orang teman seasramanya. Berenam mereka akhirnya menjadi semakin akrab meskipun berbeda latar belakang. Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Berenam menemukan tempat beristirahat bersama di bawah menara masjid dan memutuskan tempat itu menjadi markas bersama. Hingga akhirnya mereka terkenal sebagai pasukan "Sahibul Menara", dengan masing-masing mendapat julukan sebagai menara 1 hingga menara 6.

Selanjutnya cerita mengalir tentang kehidupan mereka di pesantren. Keharusan hidup mandiri dalam kesederhanaan. Tuntutan tugas dan hafalan yang harus dikejar setiap hari. Kebersamaan dan kesetiakawanan di antara mereka berenam sembari berbagi mimpi dan semangat. Serunya kompetisi sepakbola antar asrama dengan Said sebagai jagoan baru. Keberhasilan Dulmajid membujuk ustad untuk mengadakan nonton bareng semifinal Thomas Cup di Aula padahal televisi sebelumnya adalah hal terlarang. Hadirnya putri seorang ustadz yang membuat heboh seluruh pondok. Kegamangan Alif yang sering tergoda oleh surat-surat dari temannya yang menempuh pendidikan SMA umum. Ketegangan mereka saat menghadapi ujian akhir di kelas 6. Hingga akhirnya saat mereka bertemu kembali belasan tahun kemudian.

Perspektif Baru Tentang Pesantren

Membaca novel ini yang paling berkesan adalah terbukanya sebuah cara pandang baru tentang tempat pendidikan yang berlabel 'pondok pesantren'. Ternyata pesantren tidaklah identik dengan pendidikan bergaya kolot dan konservatif, yang tidak flexible menghadapi perubahan jaman, yang lebih sering menjadi tempat pembuangan bagi anak-anak bermasalah.

Pesantren Madani di novel ini – yang sebenarnya merupakan gambaran riil dari Pondok Modern Gontor – memang patut berjuluk 'pondok modern'. Bukan hanya fokus pada pendalaman ilmu agama Islam, tetapi juga mempersiapkan setiap santrinya untuk siap berlaga di dunia global dari segi ilmu, bahasa, kemampuan berorasi, disiplin, hingga kepercayaan diri. Tontonan televisi memang dilarang, tapi buku dan majalah-majalah luar negeri yang bermanfaat bebas mengalir.

Penulis secara detail menjabarkan bagaimana sistem yang diterapkan di pesantren ini. Bagaimana kedisiplinan bisa dijaga dan mendarah daging pada setiap penghuni pondok. Bagaimana proses pendidikan bahasa dijalankan setiap saat agar dalam 3 bulan sudah mahir berbahasa asing. Bagaimana setiap murid dibentuk menjadi orator dan pembicara yang tangguh. Bagaimana masa ujian dikondisikan seperti sebuah perayaan tahunan yang penuh semangat belajar. Bagaimana bakat dan kreativitas setiap murid diakomodasi dan diarahkan menjadi lebih terasah. Bagaimana para pengajar dan para senior terus menerus memotivasi dan membangkitkan semangat dengan berbagai cara. Benar-benar suatu tempat yang dipersiapkan untuk melahirkan insan-insan unggulan.

Memang, sistem tersebut tidak diterapkan secara umum di semua pesantren, hanya di pesantren-pesantren tertentu yang mengaplikasikan sistem 'pondok modern'. Tapi paling tidak bisa membuka wawasan masyarakat umum bahwa pesantren bukan berarti tempat pendidikan kelas dua, atau tempatnya orang-orang 'garis keras'.

Bacaan yang Renyah Bergizi

Ahmad Fuadi, penulis buku ini, menjadikan kisah hidupnya sendiri selama di Pondok Modern Gontor sebagai inspirasi utama untuk menghidupkan novel ini menjadi sebuah memoar yang memikat. Romantika hidup dalam keterbatasan bisa ditampilkan tetap dengan penuh optimisme tanpa pernah mengasihani diri. Mencoba menularkan nilai-nilai kejujuran, ketekunan, kebersamaan, kegigihan, dan semangat untuk terus maju tanpa berkesan menggurui.

Dengan kemampuan jurnalistiknya Fuadi memberikan detail-detail yang bisa membangun imajinasi pembaca. Dialog dan narasinya mengalir mudah diikuti tanpa perlu mengerutkan kening. Pembaca juga akan dengan mudah meleburkan diri dalam sosok Alif Fikri dengan segala kekuatan dan kelemahannya.

Namun agak sedikit disayangkan adanya salah ketik di beberapa tempat yang terasa mengganggu konsentrasi membaca.

Kabarnya buku ini adalah bagian dari sebuah trilogi. Karena di akhir buku ini keenam sahabat itu telah menyelesaikan pendidikannya di PM, dan baru bertemu lagi belasan tahun kemudian, lalu apa yang akan dikisahkan pada buku lanjutannya? ... Ya, kita tunggu saja.

 

Monday, July 27, 2009

Gaul Jadul, Di Balik Pustaka

Asik, predikat "Penulis" sekarang sudah secara resmi boleh dicantumkan dalam portofolioku (jiyeeeeh..). Itu karena buku hasil tulisanku telah dirilis secara komersial ke pasar buku Indonesia. Dulu-dulu meskipun sering bikin tulisan tapi kayaknya belum pantas dibilang "Penulis", karena masih sebatas tulisan di blog atau beberapa review yang diambil oleh media cetak. Kalo sekarang namaku sudah bisa ditemukan di katalog toko-toko buku... huuu huihuihui..

Ini dia detil spesifikasi dari buku hasil tulisanku :)



Judul : Gaul Jadul, Biar Memble Asal Kece
Penulis : Q Baihaqi
Penerbit : Gagas Media, 2009
Editor : Valiant Budi
Dimensi : viii + 280 hlm, 13 x 19 cm
ISBN : 979-780-346-5
Harga : Rp. 36.500,-


Yap.. ini adalah kumpulan tulisan-tulisanku di blog Lapanpuluhan yang tentu saja isinya adalah banyak hal seputar nostalgia jaman-jaman dekade 80-an. Maunya sih semua tulisan yang ada di blog itu dibukukan, tapi atas pertimbangan penerbit yang masuk baru tulisan-tulisanku saja. Padahal kalau semuanya bisa masuk mestinya lebih seru dan lengkap.

Proses Penerbitan

Jadi gini, udah lama muncul ide untuk membukukan blog lapanpuluhan itu. Ngeliat banyaknya respon dari pengunjung blog, kayaknya bakal ada pasar yang akan menyambut gembira jika blog tersebut dibukukan. Temanya juga unik, tidak mengekor siapapun. Nanya-nanya ke teman yang di penerbitan terkenal, ada kans gak blog itu untuk diterbitkan jadi buku? Sayangnya pada bilang kalo mereka bingung akan dimasukkan ke lini mana? non fiksi, kisah nyata, dokumentasi, hobby??? ... Sementara penerbit yang sudah sering membukukan blog adalah Gagas Media yang aku gak kenal siapapun disana. Ada tawaran dari penerbit baru yang sama sekali belum pernah terdengar keberadaannya. Hmmm... gak yakin udah punya sistem yang bagus, jangan2 tar malah dikibulin :p. Ada yang ngusulin cetak dan terbitin sendiri. Hah? yakin lu? ribet tau.. ini bukan cuma sekedar masalah mencetak saja, tapi ada masalah distribusi, pemasaran dll dll...

Pucuk dicinta ulam tiba.. sekitar pertengahan bulan Juli tahun lalu, nemplok lah sebuah email di inbox ku dari seseorang yang mengaku penggemar blog Lapanpuluhan. Dia bilang kalo bekerja sebagai editor di Gagas Media dan menawarkan kerjasama untuk membukukan blog Lapanpuluhan di bawah penerbit Gagas Media. Horeeee... datang sendiri ternyata.. dan tentunya pantang ditolak dong

Ketemuan dengan Valiant (editor) dan Resita (editor merangkap proofreader) pertama kali di Skydining Plangi. Masih kagok dan bingung mo gimana dan bahas apa. Diskusi-diskusi akhirnya diputuskan yang dibukukan cuma tulisan-tulisanku doang. Kalau dari penulis lain mau dimasukkan aku sendiri yang harus mengatur perjanjian dengan penulis lain itu... waaaah.. ribet tuh. Selanjutnya aku diminta memilih artikel2 mana yang akan dimasukkan, dicompile jadi sebuah naskah dan dikirim ke mereka.

Editing Yang Lumayan Lama

Artikel-artikel yang layak terbit aku kumpulkan dan diedit ulang. Aku juga menjanjikan akan bikin tambahan artikel baru supaya lebih lengkap yang dibahas. Sempet stuck males ngerjain beberapa bulan :p. Pertama janji sekitar bulan September draft naskah akan aku kirim. Tapi ternyata draft pertama baru aku kirim bulan November.. wekekekeke... maap ya Val, Re :D Dua minggu kemudian draft itu dikirim balik ke aku dengan SEKIAN BANYAK CORETAN DAN WARNA MERAH DISANA SINI! Huaaaa ... huhuhuhu... berasa asistensi sama dosen pembimbing..

Dengan hati terluka (halah) aku perbaiki lagi naskah itu, dan aku tambah-tambahin lagi seperlunya. Tapi apa daya, harus tersendat-sendat karena aku juga harus persiapan untuk acara 'beritu' :D Edit, kirim, coret, kirim balik, edit, kirim, coret, kirim balik.. huuuhuhuhu... Naskah baru final sekitar akhir bulan Maret. Tanda tangan kontrak deeeeh

Tapi ternyata gak langsung bisa dicetak. Masih ada urusan nyari cover yang butuh waktu sampai sebulan lebih. Gonta-ganti berkali-kali. Bukan aku yang rewel milih cover, karena masalah cover adalah sepenuhnya urusan penerbit. Aku cuma disodorin beberapa contoh dan disuruh milih. Setelah cover fixed, ternyata ga bisa langsung cetak juga. Ada masa tenggang beberapa minggu nunggu giliran untuk dicetak, karena ada buku2 lain yang lebih diprioritaskan.

Akhirnya di penghujung bulan Juni 2009, lahirlah si bayi jadul itu... Alhamdulillah..

Beberapa Komentar

Ada komentar dari beberapa orang yang udah baca bukuku ini.
- Komen pertama dari mertua : "Lucu ya tulisannya, bisa nostalgia".. hihihi makasih Ma.
- Komen dari Budi Cheung yang menyumbangkan beberapa foto koleksi jadulnya: "Fotonya kurang banyaaak, man!". Yah.. apa boleh buat. Aku udah mengirimkan banyak foto buat ilustrasi, tapi yang mana yang dipasang di buku itu sepenuhnya keputusan penerbit.
- Komen dari Aldiwirya yang foto cover kaset jadulnya aku pinjam: "Ada yang salah tuh, Ratih Purwasih bukan dari artis JK!"... hah? oya? waduh.. salah fatal dong *tepok jidat*
- Komen Ferina di reviewnya: "Buku ini garink. Mau lucu-lucuan, kurang kena".. huaaaa, hiks hiks.. sebenarnya kan memang ini adalah tulisan dokumentasi yang aku bumbuin celetukan konyol. Di beberapa bagian yang aku lagi gak mood buat ngegaring emang jadi terkesan serius.
- Komen lain: "Banyak yang belum dibahas, seperti fashion, tempat gaul dll".. Memang banyaaaak yang belum dibahas. Karena banyak sekali kalo mau meng-eksplore semua hal di 80-an. Yang dimasukkan di buku ini baru beberapa hal yang sudah sempat aku gali dan bikin tulisannya. Untuk menggalinya perlu ada sumber yang lengkap sebagai referensi, itu yang agak susah nyarinya.

Ditunggu ya komentar-komentar yang lain :)

Dan terima kasih buat semua pihak yang mensupport dan menyemangati hingga akhirnya buku ini bisa terbit dan beredar di pasaran.
 

Thursday, May 07, 2009

Negeri Van Oranje

Negeri Van OranjeJudul : Negeri Van Oranje
Pengarang : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penyunting : Gunawan BS
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Cetakan I, April 2009, 477 hlm.


Awal tahu novel ini dari promo salah satu penulisnya yang kebetulan kenal di dunia maya. Kenal dari saling mengunjungi blog masing-masing, lalu chatting sekedarnya. Orangnya enak sih, maksudnya enak buat dicela-cela. Lalu waktu dia mudik ke Indonesia sempat ketemuan rame-rame. Dan kemudian beberapa waktu lalu dia tiba-tiba promo novel hasil karyanya ini, jadi pengen tahu. Itu aja... (Sengaja dibikin datar, soalnya kalo mau komen jujur tentang si penulis yang di urutan keempat itu, bakal isinya penuh cela-celaan.. sumpah .. jujur nih Ki :p)

Ditulis oleh 4 orang? Gimana ya pengaturannya? Itu yang pertama kali muncul di benakku waktu tahu ini adalah novel hasil keroyokan.

Cerita Pencari Ilmu di Belanda

Berkisah tentang 5 orang Mahasiswa Indonesia yang berkesempatan melanjutkan studi akademik mereka di Negeri Van Oranje, alias Belanda. Lintang yang Sarjana Sastra mengambil European Study di Leiden, Banjar insinyur yang jadi manager marketing perusahaan rokok menambah ilmu dengan mencari gelar MBA di Rotterdam, Wicak sarjana kehutanan yang kerja di LSM diungsikan untuk menjadi Research Master di Wageningen demi menghindari kejaran cukong-cukong kayu, Daus pegawai Departemen Agama mengejar gelar LLM dalam bidang Human Rights Law di Utrecht. Sedangkan Geri yang anak konglomerat sudah bersekolah di Belanda sejak tingkat Bachelor, dan sekarang sedang mengambil Master nya di Den Haag.

Lima orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, tinggal di Belanda tapi di kota yang berbeda-beda, tak sengaja bersamaan terjebak badai di stasiun kereta Amersfort dan disatukan oleh kesamaan nasib dan pertukaran rokok. Dari pertemuan pertama itu berlanjut dengan komunikasi intens antar kota di dunia maya. Mereka berlima membentuk milis dengan nama AAGABAN : Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands.

Kisahpun bergulir tentang keseharian mereka masing-masing dalam bergelut dengan studi mereka. Begadang setiap malam untuk mengerjakan tugas, mencari referensi seharian di perpustakaan, menghadapi pembimbing, hingga masalah notebook yang crash dan data yang hilang. Selain itu juga tentang usaha mereka untuk bisa bertahan hidup di negeri orang dengan dana yang terbatas, kecuali Geri tentu saja. Diselingi dengan cerita jalan-jalan menelusuri kota-kota di Belanda, juga perjalanan sebagai backpackers mengelilingi sebagian Eropa. Dan tentunya di antara sekumpulan orang dewasa dimana ada lawan jenis, tak bisa dihindari akan muncul kisah roman yang melibatkan banyak segi.

Ditulis Berempat?

Belum tahu bagaimana cara novel ini ditulis dengan melibatkan empat orang sekaligus. Dari biodata penulis tampaknya latar belakang setiap tokoh masing-masing terhubung dengan salah satu penulis, kecuali tokoh Geri. Mungkin setiap penulis menggarap bagian cerita saat tokohnya memegang peran utama, kemudian dikolaborasikan dengan tokoh dari penulis yang lain. Sepertinya agak ribet ya.. terutama untuk menjaga konsistensi gaya bercerita. Ada yang suka ngegaring dengan footnote gak penting, ada bagian yang serius dan mendetil, ada juga bagian yang puitis.

Awalnya aku sangka ini adalah memoar bersama dari serombongan teman satu genk yang memang benar-benar terjadi. Terutama karena cerita latar belakang salah seorang tokohnya memang mirip benar dengan salah seorang penulis yang aku kenal (walaupun penggambaran fisiknya jauh panggang dari api :p .. disitu dibilang cungkring, padalah aslinya potongan cukong.. wekekeke ). Tapi ketika mulai memasuki kisah romannya, barulah curiga bahwa ini bercampur dengan cerita fiksi. Sah-sah saja sih demi untuk membangun cerita yang lebih dramatis dan menarik pembaca, jadi bukan sekedar memoar dan kisah perjalanan. Dan memang tidak ada embel-embel "kisah nyata" atau "memoar" yang dicantumkan di sampul bukunya.

Detail dan Bertabur Informasi Penting

Pendalaman dan penjelasan setting tentu jangan diragukan lagi. Selain karena para penulisnya memang benar-benar pernah bahkan masih tinggal di Belanda, mereka juga adalah mahasiswa S2 yang sudah terbiasa menulis paper ilmiah dengan tuntutan detail yang tinggi. Setiap kota tempat tinggal para tokohnya dikupas habis semua sudutnya. Detail cara hidup mahasiswa Indonesia di rantau juga dijabarkan dengan lengkap. Mereka yang suka bertualang pasti akan merasa dikitik-kitik agar ikut merasakan sendiri semua detail itu. Apalagi hampir di setiap bab selalu ada tambahan kotak Feature berisi Tips-tips menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Belanda dalam bentuk daftar bernomor yang sistematis.

Keberadaan kotak-kotak Feature yang berisi tips-tips itu memang sangat bermanfaat buat pembaca yang akan atau ingin mengikuti jejak para penulis meneruskan studi atau sekedar jalan-jalan di Belanda. Hanya saja jadi agak mengaburkan genre dari buku ini, ini buku fiksi atau non-fiksi? Yah, mungkin sebaiknya tidak usah dikotak-kotakkan, nikmati saja bagian fiksinya sebagai hiburan dan bagian non-fiksinya sebagai tambahan informasi.

Bagian fiksinya sendiri lumayan menarik dengan konflik yang cukup mengejutkan. Walaupun konfliknya agak lambat terbangun karena di bagian awal hingga pertengahan lebih banyak menjelaskan latar belakang setiap tokoh dan detail kota-kota di Belanda. Masalahnya bagian fiksi ini bukanlah satu-satunya topik utama dari buku ini, jadinya ya jangan mengharapkan cerita fiksi yang detail dan mendalam.

Panduan Lengkap

Yang jelas buku ini memberikan gambaran yang lengkap tentang lika-liku kehidupan menjadi mahasiswa perantau di negeri Belanda. Indahnya Belanda, kemajuan di Belanda, digabung dengan puyengnya jadi mahasiswa yang harus menghadapi setumpuk tugas dan keterbatasan biaya. Sebuah panduan lengkap yang pantas dimiliki mereka yang punya keinginan untuk melanjutkan studi atau sekedar jalan-jalan di Belanda, dengan bonus cerita fiksi yang lumayan seru dan kocak.


 

Thursday, April 30, 2009

The Magician

The Magician, Michael ScottJudul : The Magician
Serial : The Secrets of The Immortal Nicholas Flammel (buku ke-2)
Pengarang : Michael Scott
Penerjemah : Novia Stephani
Penyunting : Nadya Andwiani
Penerbit : Matahati
Edisi : Cetakan Pertama, Maret 2009, 580 hlm


Ini adalah buku kedua dari serial Nicholas Flammel karya Michael Scott. Buku pertamanya The Alchemyst sudah direview disini. Setelah terpesona dengan The Alchemyst, tentu saja buku kedua ini sangat aku nanti-nantikan. Sempat tergoda untuk beli versi Inggrisnya, tapi akhirnya berhasil menahan diri menunggu yang terjemahannya saja :D ...

Seperti buku pertamanya, versi terjemahan terbitan Matahati ini tetap menggunakan sampul versi aslinya. Penuh dengan simbol-simbol aneh dengan peletakan yang simetris memunculkan kesan magis sesuai dengan isi cerita. Keren banget, apalagi dengan ornamen-ornamen berwarna emas yang bikin buku ini semakin seperti kitab-kitab pusaka.. haha..

Pelarian dan Pencarian Berlanjut

Kisah berlanjut setelah Sophie, Josh, Nicholas, dan Scathach melintasi gerbang ley yang menyeberangkan mereka dalam sesaat dari Ojai di Amerika ke Paris. Mereka berhasil meloloskan diri dari kejaran Dr. Dee di Ojai. Namun bukan berarti pengejaran Dr. Dee terhadap dua lembar halaman terakhir buku Codex Sang Magus telah berakhir. Dee telah mengontak kroninya di Paris untuk menangkap mereka di ujung gerbang ley tempat mereka keluar. Kroni Dee di Paris tersebut bernama Niccolo Machiavelli. Yap.. Machiavelli yang itu, yang menghalalkan segala cara itu, di buku ini dia pun termasuk seorang immortal.

Sophie yang telah dilatih sihir elemental Udara oleh penyihir Endor berhasil mengecoh Machiavelli. Kemampuan Sophie yang semakin berkembang ditambah dengan memori2 penyihir Endor yang juga ditransfer semuanya ke otak Sophie, sangat bermanfaat dalam pelarian mereka.

Di Paris Nicholas berusaha mencari Tetua yang mempunyai kemampuan untuk membangkitkan kekuatan Josh. Josh harus dibangkitkan kekuatannya agar apa yang disebutkan dalam ramalan tentang si Kembar bisa benar-benar terjadi. Dalam pencariannya itu Nicholas bertemu dengan teman lamanya Saint Germaine, seorang immortal juga dengan kemampuan sihir elemental Api.

Dee tentu saja segera mengejar ke Paris. Gabungan kekuatan Dee dan Machiavelli tentu saja akan cukup sulit dipatahkan. Apalagi Nicholas semakin menua dan tidak meminum ramuan immortal lagi. Sedangkan Perenelle masih terperangkap dalam kurungan Dee di Alcatraz. Namun ada Sophie yang telah menguasai sihir Udara dan Api, juga ada Scathach dan Saint Germaine di pihak mereka.

Seruuuu !!

Masih tetap seru seperti buku pertamanya. Ritme cerita yang mengalir cepat dimana kejadian demi kejadian dahsyat bertubi-tubi menghadang tokoh-tokoh di novel ini bisa membuat pembaca tidak sempat meletakkan buku ini barang sejenak. Pembaca yang menggemari kisah thriller fantasi akan dipuaskan dengan aksi-aksi seru pertarungan antar penguasa ilmu magis, juga kemunculan mahluk-mahluk aneh dari legenda kuno dengan kemampuannya masing-masing.

Michael Scott memang pandai merangkai cerita fantasi dan mengerti sekali apa yang diinginkan pembaca. Adegan-adegan spektakuler dan kolosal dimunculkan penuh dengan kejutan. Meskipun kadang di beberapa bagian yang melibatkan dunia nyata agak terlalu dipaksakan menjadi ajaib demi menolong tokoh-tokoh utama. Seperti ketika tiba-tiba banyak manusia berkerumun di menara Eiffel, juga ketika tiba-tiba muncul banyak semut dari dalam tanah. Padahal manusia dan semut yang ada di kejadian itu adalah mahluk biasa bukan jadi-jadian.

Michael Scott juga berhasil menjaga karakter setiap tokohnya untuk tetap konsisten sepanjang cerita. Pembaca akan dibawa hanyut dalam pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya pada setiap tokoh. Seberapa jauh Sophie akan menguasai ilmu nya, apa yang terjadi jika Josh dibangkitkan kekuatannya, mampukah Nicholas dan Perenelle bertahan hidup hingga mereka berhasil merebut buku Codex kembali, kelicikan apa lagi yang akan dilakukan oleh Dee.

Tapi satu hal, keinginan penulis untuk melibatkan tokoh-tokoh besar yang benar-benar ada dalam sejarah manusia terasa agak terlalu dipaksakan. Biografi kehidupan tokoh legendaris itu disusun ulang oleh Michael Scott demi mengikuti jalan cerita di novel ini. Jika di buku pertama, tokoh legendaris yang dimunculkan adalah Nicholas, Perenelle Flamel dan John Dee, yang tidak terlalu terkenal kecuali di kalangan para pengamat sejarah, di buku kedua ini muncul tokoh yang lebih terkenal : Niccolo Machiavelli dan Joan d'Arc. Buat yang mengetahui kisah hidup mereka sebenarnya mungkin akan agak sedikit terganggu dengan kisah rekaan untuk tokoh tersebut di buku ini.

Bagaimanapun, ini adalah novel yang keren dan seru banget buat para penggemar thriller fantasi. Cuman ya gitu... bersambung lagi.. :p