Awal tahu novel ini dari promo salah satu penulisnya yang kebetulan kenal di dunia maya. Kenal dari saling mengunjungi blog masing-masing, lalu chatting sekedarnya. Orangnya enak sih, maksudnya enak buat dicela-cela. Lalu waktu dia mudik ke Indonesia sempat ketemuan rame-rame. Dan kemudian beberapa waktu lalu dia tiba-tiba promo novel hasil karyanya ini, jadi pengen tahu. Itu aja... (Sengaja dibikin datar, soalnya kalo mau komen jujur tentang si penulis yang di urutan keempat itu, bakal isinya penuh cela-celaan.. sumpah .. jujur nih Ki :p)
Ditulis oleh 4 orang? Gimana ya pengaturannya? Itu yang pertama kali muncul di benakku waktu tahu ini adalah novel hasil keroyokan.
Cerita Pencari Ilmu di Belanda
Berkisah tentang 5 orang Mahasiswa Indonesia yang berkesempatan melanjutkan studi akademik mereka di Negeri Van Oranje, alias Belanda. Lintang yang Sarjana Sastra mengambil European Study di Leiden, Banjar insinyur yang jadi manager marketing perusahaan rokok menambah ilmu dengan mencari gelar MBA di Rotterdam, Wicak sarjana kehutanan yang kerja di LSM diungsikan untuk menjadi Research Master di Wageningen demi menghindari kejaran cukong-cukong kayu, Daus pegawai Departemen Agama mengejar gelar LLM dalam bidang Human Rights Law di Utrecht. Sedangkan Geri yang anak konglomerat sudah bersekolah di Belanda sejak tingkat Bachelor, dan sekarang sedang mengambil Master nya di Den Haag.
Lima orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, tinggal di Belanda tapi di kota yang berbeda-beda, tak sengaja bersamaan terjebak badai di stasiun kereta Amersfort dan disatukan oleh kesamaan nasib dan pertukaran rokok. Dari pertemuan pertama itu berlanjut dengan komunikasi intens antar kota di dunia maya. Mereka berlima membentuk milis dengan nama AAGABAN : Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands.
Kisahpun bergulir tentang keseharian mereka masing-masing dalam bergelut dengan studi mereka. Begadang setiap malam untuk mengerjakan tugas, mencari referensi seharian di perpustakaan, menghadapi pembimbing, hingga masalah notebook yang crash dan data yang hilang. Selain itu juga tentang usaha mereka untuk bisa bertahan hidup di negeri orang dengan dana yang terbatas, kecuali Geri tentu saja. Diselingi dengan cerita jalan-jalan menelusuri kota-kota di Belanda, juga perjalanan sebagai backpackers mengelilingi sebagian Eropa. Dan tentunya di antara sekumpulan orang dewasa dimana ada lawan jenis, tak bisa dihindari akan muncul kisah roman yang melibatkan banyak segi.
Ditulis Berempat?
Belum tahu bagaimana cara novel ini ditulis dengan melibatkan empat orang sekaligus. Dari biodata penulis tampaknya latar belakang setiap tokoh masing-masing terhubung dengan salah satu penulis, kecuali tokoh Geri. Mungkin setiap penulis menggarap bagian cerita saat tokohnya memegang peran utama, kemudian dikolaborasikan dengan tokoh dari penulis yang lain. Sepertinya agak ribet ya.. terutama untuk menjaga konsistensi gaya bercerita. Ada yang suka ngegaring dengan footnote gak penting, ada bagian yang serius dan mendetil, ada juga bagian yang puitis.
Awalnya aku sangka ini adalah memoar bersama dari serombongan teman satu genk yang memang benar-benar terjadi. Terutama karena cerita latar belakang salah seorang tokohnya memang mirip benar dengan salah seorang penulis yang aku kenal (walaupun penggambaran fisiknya jauh panggang dari api :p .. disitu dibilang cungkring, padalah aslinya potongan cukong.. wekekeke ). Tapi ketika mulai memasuki kisah romannya, barulah curiga bahwa ini bercampur dengan cerita fiksi. Sah-sah saja sih demi untuk membangun cerita yang lebih dramatis dan menarik pembaca, jadi bukan sekedar memoar dan kisah perjalanan. Dan memang tidak ada embel-embel "kisah nyata" atau "memoar" yang dicantumkan di sampul bukunya.
Detail dan Bertabur Informasi Penting
Pendalaman dan penjelasan setting tentu jangan diragukan lagi. Selain karena para penulisnya memang benar-benar pernah bahkan masih tinggal di Belanda, mereka juga adalah mahasiswa S2 yang sudah terbiasa menulis paper ilmiah dengan tuntutan detail yang tinggi. Setiap kota tempat tinggal para tokohnya dikupas habis semua sudutnya. Detail cara hidup mahasiswa Indonesia di rantau juga dijabarkan dengan lengkap. Mereka yang suka bertualang pasti akan merasa dikitik-kitik agar ikut merasakan sendiri semua detail itu. Apalagi hampir di setiap bab selalu ada tambahan kotak Feature berisi Tips-tips menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Belanda dalam bentuk daftar bernomor yang sistematis.
Keberadaan kotak-kotak Feature yang berisi tips-tips itu memang sangat bermanfaat buat pembaca yang akan atau ingin mengikuti jejak para penulis meneruskan studi atau sekedar jalan-jalan di Belanda. Hanya saja jadi agak mengaburkan genre dari buku ini, ini buku fiksi atau non-fiksi? Yah, mungkin sebaiknya tidak usah dikotak-kotakkan, nikmati saja bagian fiksinya sebagai hiburan dan bagian non-fiksinya sebagai tambahan informasi.
Bagian fiksinya sendiri lumayan menarik dengan konflik yang cukup mengejutkan. Walaupun konfliknya agak lambat terbangun karena di bagian awal hingga pertengahan lebih banyak menjelaskan latar belakang setiap tokoh dan detail kota-kota di Belanda. Masalahnya bagian fiksi ini bukanlah satu-satunya topik utama dari buku ini, jadinya ya jangan mengharapkan cerita fiksi yang detail dan mendalam.
Panduan Lengkap
Yang jelas buku ini memberikan gambaran yang lengkap tentang lika-liku kehidupan menjadi mahasiswa perantau di negeri Belanda. Indahnya Belanda, kemajuan di Belanda, digabung dengan puyengnya jadi mahasiswa yang harus menghadapi setumpuk tugas dan keterbatasan biaya. Sebuah panduan lengkap yang pantas dimiliki mereka yang punya keinginan untuk melanjutkan studi atau sekedar jalan-jalan di Belanda, dengan bonus cerita fiksi yang lumayan seru dan kocak.
Judul : The Magician Serial : The Secrets of The Immortal Nicholas Flammel (buku ke-2) Pengarang : Michael Scott Penerjemah : Novia Stephani Penyunting : Nadya Andwiani Penerbit : Matahati Edisi : Cetakan Pertama, Maret 2009, 580 hlm
Ini adalah buku kedua dari serial Nicholas Flammel karya Michael Scott. Buku pertamanya The Alchemyst sudah direview disini. Setelah terpesona dengan The Alchemyst, tentu saja buku kedua ini sangat aku nanti-nantikan. Sempat tergoda untuk beli versi Inggrisnya, tapi akhirnya berhasil menahan diri menunggu yang terjemahannya saja :D ...
Seperti buku pertamanya, versi terjemahan terbitan Matahati ini tetap menggunakan sampul versi aslinya. Penuh dengan simbol-simbol aneh dengan peletakan yang simetris memunculkan kesan magis sesuai dengan isi cerita. Keren banget, apalagi dengan ornamen-ornamen berwarna emas yang bikin buku ini semakin seperti kitab-kitab pusaka.. haha..
Pelarian dan Pencarian Berlanjut
Kisah berlanjut setelah Sophie, Josh, Nicholas, dan Scathach melintasi gerbang ley yang menyeberangkan mereka dalam sesaat dari Ojai di Amerika ke Paris. Mereka berhasil meloloskan diri dari kejaran Dr. Dee di Ojai. Namun bukan berarti pengejaran Dr. Dee terhadap dua lembar halaman terakhir buku Codex Sang Magus telah berakhir. Dee telah mengontak kroninya di Paris untuk menangkap mereka di ujung gerbang ley tempat mereka keluar. Kroni Dee di Paris tersebut bernama Niccolo Machiavelli. Yap.. Machiavelli yang itu, yang menghalalkan segala cara itu, di buku ini dia pun termasuk seorang immortal.
Sophie yang telah dilatih sihir elemental Udara oleh penyihir Endor berhasil mengecoh Machiavelli. Kemampuan Sophie yang semakin berkembang ditambah dengan memori2 penyihir Endor yang juga ditransfer semuanya ke otak Sophie, sangat bermanfaat dalam pelarian mereka.
Di Paris Nicholas berusaha mencari Tetua yang mempunyai kemampuan untuk membangkitkan kekuatan Josh. Josh harus dibangkitkan kekuatannya agar apa yang disebutkan dalam ramalan tentang si Kembar bisa benar-benar terjadi. Dalam pencariannya itu Nicholas bertemu dengan teman lamanya Saint Germaine, seorang immortal juga dengan kemampuan sihir elemental Api.
Dee tentu saja segera mengejar ke Paris. Gabungan kekuatan Dee dan Machiavelli tentu saja akan cukup sulit dipatahkan. Apalagi Nicholas semakin menua dan tidak meminum ramuan immortal lagi. Sedangkan Perenelle masih terperangkap dalam kurungan Dee di Alcatraz. Namun ada Sophie yang telah menguasai sihir Udara dan Api, juga ada Scathach dan Saint Germaine di pihak mereka.
Seruuuu !!
Masih tetap seru seperti buku pertamanya. Ritme cerita yang mengalir cepat dimana kejadian demi kejadian dahsyat bertubi-tubi menghadang tokoh-tokoh di novel ini bisa membuat pembaca tidak sempat meletakkan buku ini barang sejenak. Pembaca yang menggemari kisah thriller fantasi akan dipuaskan dengan aksi-aksi seru pertarungan antar penguasa ilmu magis, juga kemunculan mahluk-mahluk aneh dari legenda kuno dengan kemampuannya masing-masing.
Michael Scott memang pandai merangkai cerita fantasi dan mengerti sekali apa yang diinginkan pembaca. Adegan-adegan spektakuler dan kolosal dimunculkan penuh dengan kejutan. Meskipun kadang di beberapa bagian yang melibatkan dunia nyata agak terlalu dipaksakan menjadi ajaib demi menolong tokoh-tokoh utama. Seperti ketika tiba-tiba banyak manusia berkerumun di menara Eiffel, juga ketika tiba-tiba muncul banyak semut dari dalam tanah. Padahal manusia dan semut yang ada di kejadian itu adalah mahluk biasa bukan jadi-jadian.
Michael Scott juga berhasil menjaga karakter setiap tokohnya untuk tetap konsisten sepanjang cerita. Pembaca akan dibawa hanyut dalam pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya pada setiap tokoh. Seberapa jauh Sophie akan menguasai ilmu nya, apa yang terjadi jika Josh dibangkitkan kekuatannya, mampukah Nicholas dan Perenelle bertahan hidup hingga mereka berhasil merebut buku Codex kembali, kelicikan apa lagi yang akan dilakukan oleh Dee.
Tapi satu hal, keinginan penulis untuk melibatkan tokoh-tokoh besar yang benar-benar ada dalam sejarah manusia terasa agak terlalu dipaksakan. Biografi kehidupan tokoh legendaris itu disusun ulang oleh Michael Scott demi mengikuti jalan cerita di novel ini. Jika di buku pertama, tokoh legendaris yang dimunculkan adalah Nicholas, Perenelle Flamel dan John Dee, yang tidak terlalu terkenal kecuali di kalangan para pengamat sejarah, di buku kedua ini muncul tokoh yang lebih terkenal : Niccolo Machiavelli dan Joan d'Arc. Buat yang mengetahui kisah hidup mereka sebenarnya mungkin akan agak sedikit terganggu dengan kisah rekaan untuk tokoh tersebut di buku ini.
Bagaimanapun, ini adalah novel yang keren dan seru banget buat para penggemar thriller fantasi. Cuman ya gitu... bersambung lagi.. :p
Judul : 9 Matahari Pengarang : Adenita Penerbit : PT. Grasindo Edisi : Cetakan kedua, Desember 2008, 359 hlm
Dari judulnya pertama kali aku kira ini sejenis novel silat.. hehe. Sampulnya sama sekali tidak memberikan barang sedikit petunjuk tentang isinya. Kemudian saat sedang membolak-balik buku ini ada penjaga tokonya mempromosikan buku ini dengan kalimat "Ini Laskar Pelangi versi mahasiswa". Oh no.. aku nggak begitu suka dengan pengekor :p Di kesempatan pertama itu pun aku batal mengambil buku ini.
Tapi akhirnya beberapa waktu kemudian setelah mendengar beberapa orang merekomendasikan buku ini, aku mengambilnya juga.
Perjuangan Menjadi Sarjana
Ini kisah tentang seorang gadis bernama Matari Anas. Keluarganya sedang menghadapi keadaan ekonomi yang sulit sejak ayahnya pensiun dini dan gagal membangun bisnis. Namun Tari tidak mau menyurutkan impian dan cita-citanya. Tari bertekad tetap terus sekolah dan menjadi sarjana.
Halangan utama Tari untuk bisa mencapai impiannya adalah biaya. Kuliah hingga menjadi sarjana memang adalah sebuah kemewahan bagi kondisi mereka saat itu. Walaupun orang tua dan kakaknya memintanya berhenti bermimpi, Tari menutup telinga. Ia mencari berbagai cara yang bisa membukakan jalan untuk bisa kuliah tanpa merepotkan orang tua. Dibantu kakaknya Hera, akhirnya Tari bisa mendapatkan pinjaman untuk membayar uang masuk di Universitas Panaitan. Pinjaman yang entah nanti bagaimana cara mengembalikannya.
Tentunya itu baru masalah awal. Selanjutnya Tari masih harus mencari jalan lagi untuk menutup biaya uang sks persemester dan biaya hidup setiap bulan. Keluarganya sendiri semakin runyam karena bapaknya yang sering uring-uringan, dan selalu menyuruh Tari bekerja di pabrik saja daripada kuliah menghabiskan biaya. Untuk menutupi sebagian kebutuhannya, Tari kuliah sembari menjadi penyiar radio. Namun itupun belum mencukupi, Tari masih harus terus berhutang kesana kemari.
Di antara semua beban itu Tari harus mengatur waktu dan tenaga untuk tetap fokus kuliah dan rutin siaran. Sayangnya kejiwaan Tari ternyata juga bermasalah. Kondisi stress memikirkan kuliah, keluarga, kerja, dan hutang membuat Tari terpuruk. Akhirnya Tari memutuskan istirahat sementara dari kuliah, ia ingin bekerja dulu mengumpulkan uang untuk nantinya digunakan meneruskan kuliah.
Beruntunglah Tari selalu dikelilingi banyak teman dan kenalan yang bisa memberikan energi positif dan dorongan agar Tari terus maju mengejar mimpinya.
Kekuatan Tekad
Kekuatan novel ini adalah kebulatan tekad Matari Anas dalam menggapai apa yang sudah ia canangkan sebagai cita-cita hidupnya. Terseok-seok melalui jalan yang penuh lubang, namun Tari tetap ingin melangkah terus. Sempat jatuh tak mampu melangkah lagi, bahkan juga akhirnya sempat memutuskan berhenti sejenak, tapi cita-citanya tetap terpancang di dada Tari.
Jangan mengharapkan kisah dongeng spektakuler yang "from zero to hero", dimana pada ending cerita Tari akan menjadi tokoh paling sukses dan berjaya menggapai banyak keberhasilan. Bukan, ini bukan yang seperti itu. Ini seperti cerita dari sahabat, atau saudara kita sendiri yang kita dengar dari lingkungan sekitar kita. Menurutku justru yang seperti itu malah membuat pembaca merasa dekat dan terlibat langsung dengan tokoh-tokohnya, dan selanjutnya bisa memberi inspirasi dan membangkitkan semangat.
Yah, walaupun mungkin akan ada pihak-pihak yang berujar : jadi sarjana itu bukan jaminan sukses, banyak sarjana yang nganggur dan banyak yang putus sekolah bisa sukses. Apapun lah, yang bisa kita teladani kan kekuatan tekadnya Tari.
Memoar Kehidupan Penulis Sendiri?
Setelah membaca profil penulis di halaman belakang buku ini, tampaknya novel ini adalah memoar pribadi dari kehidupan Adenita sendiri. Meskipun hampir semua nama dan tempat disamarkan, pembaca akan dengan mudah menghubungkan tempat kuliah dan bekerja penulis dengan tempat-tempat yang disebutkan di novel ini. Jika memang benar begitu, bahwa novel ini adalah berdasarkan kisah penulis sendiri.. salut juga dengan perjuangannya.
Karena berdasarkan kisah nyata, jangan mengharapkan cerita penuh keajaiban dan akhir yang dramatis sensasional. Dalam perjalanan hidup Tari memang kadang muncul orang-orang baik hati yang di saat Tari sudah sangat terjepit tiba-tiba bersedia membantu kesulitan Tari. Namun semuanya masih dalam batas yang wajar. Akhir cerita juga tetap manusiawi tidak dilebih-lebihkan. Pembaca akan semakin yakin bahwa ini memang kisah nyata.
Karena berdasarkan kisah nyata juga, maka jangan merasa terganggu jika di beberapa bagian kisahnya keluar dari fokus cerita. Membahas secara detil tentang suatu hal yang ternyata tidak memberikan sumbangan terhadap kerangka cerita yang sudah tersusun dari awal. Karena memang begitulah kisah kehidupan yang sebenarnya, ada banyak hal yang terjadi tetapi tidak selalu berhubungan. Adenita hanya ingin menceritakan banyak hal-hal penting dan berkesan yang telah mewarnai hidupnya.
Filosofinya Menyentuh
Adenita mempunyai kemampuan bercerita yang bagus. Pembaca akan dengan mudah terhanyut dalam emosi para tokohnya, karena ia bisa menjabarkan pemikiran dan suasana hati tokoh-tokohnya dengan baik. Dialog-dialognya mengalir mudah dipahami. Hanya saja kadang ia memberikan penjabaran yang terlalu panjang untuk menjelaskan hal yang sudah pernah dibahas, atau menjelaskan hal yang tidak terlalu penting. Jadi pada beberapa bagian ada yang terpaksa aku skip.
Ia juga pandai menyusun dan menyisipkan pandangan-pandangan hidup yang penuh hikmah dalam kalimat-kalimat yang filosofis melalui beberapa tokohnya. Tentang ikhlas, tentang persahabatan, tentang hubungan anak dan orangtua, tentang tekad menggapai cita-cita, dan tentang 9 matahari. Indah dan menyentuh..
Judul : Rahasia Kaum Falasha Subjudul : Perburuan Filolog Muslim Indonesia Di Bawah Bayang-bayang Zionis Pengarang : Mahardhika Zifana Penerbit : Edelweiss Edisi : Cetakan I, Januari 2009, 424 hlm
Judul dan sepotong sinopsis di halaman belakang novel ini menerbitkan rasa ingin tahuku. Sudah terbayang sebuah fiksi petualangan dalam balutan data dan kisah sejarah masa lalu. Beberapa novel lokal sejenis lebih banyak yang mengorek sejarah nusantara sendiri sebagai latar belakang. Karena itulah jadi pengen tahu bagaimana penulis lokal mampu mengangkat sejarah dari bangsa lain dalam sebuah fiksi lokal.
Sebenarnya agak ragu untuk membaca buku ini, belum pernah dengar nama penulisnya, penerbitnya juga jarang aku ikutin buku-bukunya, gambar sampulnya juga tidak menjanjikan :p. Yang agak memberikan tambahan keinginan membaca adalah karena ada nama penerbit Mizan sebagai pendamping penerbit Edelweiss. Dan satu hal lagi, di sampul depan ada tulisan "Akan menjadi film kolosal pertama dalam sejarah Indonesia" ! o ya? Jadi selama ini belum ada film kolosal di sejarah Indonesia? Film-film perjuangan dan film-film laga yang banyak beredar beberapa tahun lalu nggak termasuk kolosal ya? ... hmmm berarti cerita dalam novel ini pastilah amat sangat kolosal.. jadi penasaran sekolosal apa ya ceritanya?
Buku ini adalah buku pertama dari trilogi "Battle for Solomon's Treasure". Wow.. cukup berani penulisnya ikut mengangkat topik populer ini menjadi sebuah buku versi sendiri. Pasti diperlukan riset yang cukup mendalam untuk mengolah legenda itu menjadi fiksi dalam versi yang berbeda. Buku kedua rencananya berjudul "Pelangi di Puncak Ararat", dan buku ketiga berjudul "The Seven Sleepers".
Pencarian Tabut Perjanjian dan Harta Sulaiman
Kaum Falasha adalah nama yang lazim diberikan kepada orang-orang Yahudi di Ethiopia. Falasha dalam bahasa Armharic berarti "terasing" atau "tak punya rumah". Sebagian dari mereka telah dimukimkan di Israel, tapi masih ada sebagian kecil yang masih tinggal di Ethiopia. Mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai Kaum Beta Israel. Orang Beta Israel ini meyakini bahwa mereka adalah keturunan Menelik, putra Raja Sulaiman dan Ratu Saba.
Novel ini diawali cerita saat Esa, doktor muda bidang sastra lulusan Harvard University, menerima kabar tentang kematian Heri sahabat dekatnya. Heri terbunuh saat sedang melakukan penelitian untuk disertasi doktornya dalam bidang Filologi di Ethiopia. Polisi Ethiopia menduga seorang bernama Indra, asisten penelitian Heri, sebagai pelakunya. Bersamaan dengan kabar itu, Esa juga menerima sebuah paket kecil berisi benda berbentuk segitiga bertumpuk berwarna emas. Yang mengejutkan pengirimnya adalah Indra dengan pesan agar disimpan baik-baik.
Beberapa hari kemudian Esa ditugaskan kampusnya untuk ke Australia. Benda segitiga itu ia titipkan kepada Nisa teman lama Esa dan Heri. Padahal Nisa memiliki niat buruk akan menyerahkan benda tersebut kepada "Knights of Zion". Di Australia Esa akhirnya bertemu Indra. Darinya Esa mengetahui bahwa Heri sedang meneliti manuskrip kuno dari Ethiopia yang mengungkap tentang keberadaan Tabut Perjanjian Israel (Ark of Covenant) yang telah hilang sekian lama. Dan disebutkan pula disana tentang keberadaan harta simpanan Raja Sulaiman.
Tabut Perjanjian dan harta Sulaiman adalah sesuatu yang paling dicari oleh "Knights of Zion". Mereka merasa paling berhak atasnya. Maka Esa, Indra dan Nisa diburu oleh gerombolan berdarah dingin tersebut. Dengan bantuan Yitro, yang mengaku sebagai orang Beta Israel asli, mereka bertekad menemukan Tabut perjanjian dan harta Sulaiman lebih dahulu.
Petualangan dengan Unsur Islami
Riset yang dilakukan penulis seputar sejarah Yahudi di Ethiopia, keberadaan Tabut Perjanjian, dan seputar aktivitas organisani Zionis di dunia, lumayan lengkap untuk menjadi pondasi dasar cerita ini. Pastilah memerlukan waktu dan sumber daya yang banyak untuk melakukannya. Pembaca akan banyak mendapat tambahan informasi seputar topik tersebut dari buku ini. Walaupun pada kenyataannya Tabut Perjanjian dan Harta Sulaiman belum pernah ditemukan sampai saat ini.
Sisi novel ini yang berbeda dari novel bergenre petualangan yang lain adalah adanya sisi religius islami di dalamnya. Bukan hanya dalam penokohan pelaku dan kebiasaan religius setiap pelakunya, tetapi juga dalam mengambil acuan untuk tema cerita. Tema tentang Tabut Perjanjian yang hilang banyak diangkat sebelumnya dengan mengacu pada Alkitab (Torah dan Injil) dari sisi Yahudi atau Kristen. Sementara penulis di novel ini mencoba mengambil acuan dari Al-Qur'an.
Dari sudut ini, acungan jempol bisa aku berikan untuk kerja keras penulis membangun kerangka ceritanya.
Kurang Nendang
Sayangnya, dalam eksekusi pembuatan cerita fiksinya banyak yang terasa agak kedodoran.
Ketegangan yang dibangun kurang dramatis. Banyak kejar-kejaran dan aksi-aksi penyelamatan diri, hanya saja detail petualangannya kurang seru. Kadang terlalu cepat dan melewatkan momen-momen yang bisa didramatisir.
Dialog pengisi antar tokohnya seringkali terasa sebagai tempelan yang kurang natural dan tidak menyatu dengan suasana. Saat banyak tokoh berada dalam satu adegan, penulis kadang memaksakan bahwa setiap tokoh harus bicara dan ambil bagian dalam diskusi.
Keinginan menyisipkan unsur roman (yang tetap islami) dalam novel ini terasa kurang smooth. Mungkin terlalu memaksakan diri demi mengikuti formula bahwa setiap cerita sebaiknya mengandung unsur roman dan cinta-cintaan. Bukannya membuat cerita petualangan yang berkecepatan tinggi ini menjadi lebih lembut, tapi malah jadi konyol dengan pilihan dialog yang kurang pas.
Lalu benarkah akan jadi film kolosal? Dari novel ini tidak terlihat adanya adegan kolosal yang akan menjadi sejarah dalam perfilman Indonesia. Oh.. masih ada lanjutan novel kedua dan ketiga ya? Mungkin disana ada adegan kolosalnya.. Semoga.