Tuesday, November 09, 2004

Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada


Apakah kita semua
Benar benar tulus
Menyembah pada-Nya

Atau mungkin kita hanya
Takut pada neraka
Dan inginkan surga

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau bersujud kepada-Nya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya

Bisakah kita semua
Benar-benar sujud
Sepenuh hati

Karna sungguh memang Dia
Memang pantas disembah
Memang pantas dipuja


Kalimat kalimat yang sangat sarat dengan cara pandang sufi ini adalah lirik dari lagu yang ada di album terbaru Chrisye “Senyawa”. Ditulis oleh Ahmad Dhani yang memang dikenal banyak bergaul dengan dunia sufisme dari tareqat Naqsabandiyah.

Sebenernya aku nggak begitu suka dengan cara nyanyi dan suara Dhani yang “laid-back” (katanya sih gitu istilahnya, tauk apa artinya :D), nggak ada indah-indahnya menurutku, malah serem. Tapi di lagu yang membawa unsur-unsur mistism ini bisa memperkental nuansa itu. Dan di bagian akhir, Chrisye dengan suara khasnya seolah membawa kita melayang ke dunia hampa dan mengajak merenung dengan lebih jernih apa sebenarnya yang kita harapkan dari setiap sujud kita selama ini.

Lirik lagu ini memang cukup kontroversial bagi kalangan awam. Adakah yang salah, jika kita bersujud kepada Allah karena takut neraka dan mengharapkan surga? Salahkah jika kita melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan pahala, dan tidak melakukan sesuatu karena tidak ingin menambah dosa? Tidak bolehkah ada pamrih seperti itu?

Memang kesannya seperti orang jual beli, penuh pertimbangan untung rugi. Tapi cara seperti itulah yang lebih mudah dipahami oleh manusia. Apalagi semua ini menyangkut suatu hal yang tidak kasat mata. Tuhan, pahala, dosa, surga, dan neraka adalah sesuatu yang tidak pernah bisa diindera oleh manusia di dunia, mereka hanya bisa meyakini bahwa itu semua ada.

Lirik lagu ini konon diilhami oleh syair-syair dari sufi wanita Rabi’ah Al-Adawiyyah, yang bersyair kepada Allah jika ibadahnya karena takut pada neraka maka masukkan saja dirinya ke dalamnya, dan jika karena mengharap surga maka jangan biarkan dia menjejakkan kaki disana, karena dia ingin ibadah yang dilakukannya semata-mata karena rasa cintanya yang tulus kepada Allah.

Berat. Tidak sembarang orang bisa mencapai tingkat kecintaan kepada Tuhannya hingga setinggi itu. Apalagi ini adalah kecintaan terhadap sesuatu yang tidak bisa diindera, hanya bisa diyakini oleh hati.

Aku coba berandai-andai, sebagaimana lirik lagu itu. Seandainya tidak ada perhitungan pahala dan dosa, tidak ada hari perhitungan, dan tidak ada surga dan neraka. Tuhan hanya menjadi pencipta dan pemelihara. Dan manusia masih tetap seperti manusia yang ada sekarang yang memiliki pilihan untuk berbuat baik atau jahat. Masihkah manusia mau menyembah Tuhannya?

Jika tidak ada hari kemudian, maka manusia hanya akan terfokus pada kehidupan dunia. Manusia akan berupaya untuk mendapatkan yang terbaik dari dunia. Karena tidak ada pahala dan dosa, manusia akan menghalalkan segala cara, karena tidak ada norma yang membatasi. Gesekan tajam antar manusia, yang sama-sama ingin meraih dan menjadi yang terbaik, pun tidak terhindari. Akibatnya manusia akan semakin merasa hidupnya tidak aman, terancam oleh sesamanya. Mereka butuh pelindung yang mempunyai kekuatan yang besar, bahkan kalau bisa yang menguasai alam semesta.

Ya, manusia akan tetap kembali ke Tuhan. Karena dalam pengandaian ini, meski tidak ada pahala dan dosa, Tuhan tetap ada sebagai Sang Maha Kuasa yang menentukan jalan hidup setiap manusia. Manusia akan menyembah dan memuja Tuhannya sedemikian rupa dengan harapan Tuhannya akan mengabulkan doa2 mereka dan memperlancar jalan hidupnya demi mencapai kesuksesan dan kebahagiaan hidupnya di dunia. Karena manusia sadar bahwa mereka hanyalah mahluk lemah yang tidak mempunyai kemampuan untuk mengendalikan kehidupan mereka sebagaimana yang mereka inginkan.

Meski pasti tidak semua orang akan menjadi seperti itu, sebagian lagi mungkin menjadi lebih kuat memegang paham materialism yang menolak menerima hal-hal yang tidak kasat mata.

Jadi menurutku, meskipun tidak ada surga dan neraka, manusia tetap akan menyembah Tuhan Yang Maha Menguasai segala sesuatu. Meskipun sembah dan puja mereka kebanyakan pastilah masih mengandung pamrih, bukan sembah dan puja yang tulus ala Rabi’ah. Karena menyembah dan memuja Tuhan semata karena kecintaan yang dalam kepada-Nya, bukan milik sembarang orang. Perlu perjalanan spiritual yang panjang untuk bisa mencapai tingkat keimanan setinggi itu.