Friday, October 22, 2004

Duh, kok gitu

Ini sebenarnya kejadian udah agak lama. Seminggu yang lalu. Tapi aku baru dapat berita selengkapnya kemaren, dan sempet bikin aku miris mengelus dada.

Seminggu yang lalu tuh, aku berangkat ke kantor lewat di depan satu komplek pertokoan besar. Aku lihat dari jauh kok ada kerumunan orang banyak di depan jalan masuk itu komplek. Setelah dekat, ternyata kerumunan orang itu adalah para karyawan dan pegawai dari kantor dan toko yang ada di komplek itu. Mereka berkerumun di jalan masuk karena pintu pagar untuk masuk masih ditutup rapat. Dan di depan pintu pagar itu, segerombolan orang berseragam hitam yang masing-masing membawa tongkat kayu satu meteran sepertinya sedang menjadi penguasa pintu pagar.

Sebagian orang yang baru bergabung dengan kerumunan pegawai tampak kebingungan dan bertanya2. Tapi kayaknya sama-sama nggak tahu. Dan mereka juga sepertinya tidak berani mendekati para penjaga pintu yang berseragam hitam itu yang emang tampak petentang-petenteng dengan tongkat kayunya.

Nggak keliatan ada yang bawa spanduk atau apa yang menjelaskan sedang ada demo apa atau kejadian apa. Hanya begitu saja yang aku lihat. Aku lewat dua jalan masuk ke kompleks itu. Dan dua-duanya ditutup dan dijaga oleh para petentang-petenteng. Tidak jelas ada apa. Dan akupun lewat aja.

Barulah kemaren akhirnya aku baca kabar dari internet tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka yang berseragam hitam itu adalah anggota dari suatu organisasi massa yang mengatasnamakan putra daerah setempat yang sedang melakukan aksi atas nama organisasi itu. Dan yang paling mengejutkan adalah apa yang menjadi alasan mereka menjaga pintu gerbang dan tidak membiarkan pegawai pertokoan itu untuk masuk dan beraktifitas.

Mereka menyegel pintu gerbang karena menuntut kepada manajemen pengelola kompleks pertokoan itu agar mereka sebagai orang setempat dilibatkan dalam pengelolaan kompleks tersebut. Apakah itu dalam masalah perparkiran, keamanan, atau kebersihan. Mereka mengatakan punya perusahaan untuk menangani pekerjaan-pekerjaan itu. Dan mereka mengatakan bahwa mereka akan profesional dalam melaksanakan pekerjaannya.

Duh....
Kok gitu caranya..

Dilihat dari sudut manapun, cara yang mereka lakukan itu jelas nggak patut.

- Mengatasnamakan penduduk setempat? aku nggak yakin. Dari tuntutan mereka jelas mereka akan lebih mengutamakan anggota organisasinya, bukan semata-mata penduduk sekitar.

- Profesional? Bagaimana bisa mengaku profesional, kalau caranya meminta pekerjaan dengan maksa gitu. Kalau mau profesional, ya ikut tender dong...

- Menutup pintu gerbang dan melarang orang masuk. Ingin menunjukkan kalau punya kekuatan? Semakin menunjukkan apa dan bagaimana ormas yang satu ini.

- Memaksakan kehendak. Hmmm.... mereka yang memaksakan kehendak biasanya adalah orang yang tidak punya kemampuan dan tidak tahu harus berbuat bagaimana secara rasional sesuai jalur yang ada. Seperti anak kecil yang menangis berguling-guling di lantai minta dibelikan mainan.

Yah, ormas yang satu itu memang udah dikenal bergaya layaknya preman. Apakah memang merupakan wadah dari para preman, ataukah dengan sengaja mengambil gaya preman untuk mendapat kekuasaan, entah lagi. Yang manapun itu, jika ormas seperti ini semakin lama semakin kuat bisa jadi cikal bakal mafia di masa depan. Mau jadi apa negara ini.....