Saturday, May 21, 2005

Pengejar Layang-layang

"Pernah ikutan ngejar layangan putus? berlarian berebutan... grubuk grubuk grubuk... berteriak-teriak menyerukan ke arah mana layang2 melayang turun... sementara mata sibuk membagi perhatian antara tak mau kehilangan pandang dari layang2 dengan keharusan melihat jalan arah tujuan lari. Menerobos perkampungan penduduk, meniti pematang sawah, menyeberangi sungai dilakoni juga demi mendapatkan sebuah layang2 yang baru saja kalah dalam suatu arena aduan di awang2.

Bukan karena pada nggak mampu beli layangan sendiri atau nggak gape untuk membuat sendiri, sehingga harus begitu ngototnya mendapatkan layang2 kalah perang itu, tapi karena proses mengejar layangan putus itu merupakan suatu tantangan yang mengasyikkan bagi anak2. Dan jika akhirnya mampu mendapatkan layang2 putus yang dikejar2 itu, suatu kebanggaan di antara teman2 pastilah menjadi hadiah termahal.

Aku? hmmmhh... jangan tanya deh...
Nggak pernah.... :P

Jadi ini posting tentang apa?
Ya apalagi kalo bukan review buku gitu loh... :P

The Kite Runner

Dinobatkan sebagai "Best Book of the Year" oleh San Fransisco Chronicle, seabrek pujian dari berbagai media, lebih dari 500 review telah dituliskan di Amazon.com yang isinya memuji2, hhhh...siapa yang nggak penasaran?. Tak pelak lagi akupun jadi tergoda untuk mencari dan membacanya.

"The Kite Runner" adalah karya novel pertama dari Khaled Hosseini, penulis kelahiran Kabul-Afghanistan yang sekarang menetap di California setelah mendapat suaka politik semasa Afghanistan dikuasai Uni Sovyet. Walaupun ini adalah novel debutan, tapi Khaled Hosseini mampu menyedot perhatian dari pencinta cerita fiksi dan menunjukkan bahwa dirinya tidak bisa diremehkan. Para penikmat novel pun memaklumi akan hadirnya seorang penulis handal dari Afghanistan, dan tanpa segan memberikan standing ovation kepadanya.

Mengangkat kisah tentang persahabatan dua orang anak Afghanistan yang berbeda nasib, yang kemudian berakhir dengan penebusan dosa di masa dewasa mereka. Dengan latar belakang utama kehidupan di kota Kabul sejak dari masa damai pada tahun 70-an, kemudian berganti dengan penguasa komunis, hingga akhirnya direbut oleh kelompok Taliban pada tahun 2000-an. Mengungkap tentang persahabatan, ketulusan, pengabdian, sekaligus pengkhianatan. Selain berbumbu ketegangan dan kemuraman masa perang, diskriminasi ras yang sangat kental juga menciptakan banyak konflik dalam novel ini.

Secuplik Kisahnya

Amir anak seorang pengusaha terkemuka di Kabul, berasal dari suku Pashtuns yang menganut Islam sunni, sehari-harinya berteman dengan Hassan, anak dari pelayan di rumahnya yang berasal dari suku Hazara yang menganut Islam syi'ah. Meskipun lingkungannya sudah lazim menganggap orang Hazara sebagai orang yang selayaknya dijadikan budak, Amir tetap akrab bergaul dengan Hassan tanpa mempedulikan tatapan dan omongan sinis orang di sekitarnya. Bahkan meskipun Hassan memiliki cacat sejak lahir, berbibir sumbing.

Hassan seolah memang dilahirkan untuk mengabdi sepenuhnya kepada Amir, sebagai mana Ali ayahnya yang mengabdi penuh kepada Baba ayah Amir sejak kecil. "For you, a thousand times over!" adalah kata2 yang sering diucapkan Hassan kepada Amir yang jelas mencerminkan suatu pengabdian total.

Hassan adalah "The Kite Runner" yang menjadi judul novel ini. Hassan adalah pengejar layang-layang yang tak terkalahkan. Ia mampu memperkirakan posisi jatuh layang2 secara akurat, tanpa perlu ikut berlarian mengikuti terus gerak jatuh layang2 tersebut. Ia tinggal menunggu di satu tempat yang telah diperkirakannya, dan layang2 itupun seolah datang menghampirinya.

Hingga pada suatu kontes aduan layang2 tahunan, Hassan yang berusaha mendapatkan layang2 yang terakhir jatuh untuk dipersembahkan kepada Amir, akhirnya harus mengalami kejadian yang menyedihkan. Amir hanya mampu melihat kejadian itu dari persembunyian di kejauhan, tak berani berbuat apa2. Kesakitan yang dialami Hassan demi untuk tetap bisa mempersembahkan layang2 itu kepada Amir, membuat Amir menyesali diri tak henti2 atas kepengecutannya dan itu terus menghantui hidupnya.

Kondisi Afghanistan yang kacau, mengharuskan Amir dan Ayahnya bermigrasi ke Amerika Serikat. Hingga dua puluh tahun kemudian, ketika Amir telah menikah, sebuah panggilan telepon dari Pakistan memberi kesempatan kepada Amir untuk melakukan penebusan dosa... "There is a way to be good again"

Tentang Afghanishtan dan Masa Kecil

Khaled Hosseini menggali karakter pelaku dengan sangat dalam. Pembaca bisa ikut merasakan kegelisahan Amir selama dalam penyesalan, ketakutannya ketika dalam pelarian, keragu-raguannya untuk kembali ke Afghanistan, juga kebulatan tekadnya untuk menebus dosa. Pembangunan karakter yang kuat dan konsisten. Salah satu review menyatakan, membaca novel ini serasa membaca sebuah memoar bukannya novel fiksi. Bahkan ada yang menebak2 bahwa kemungkinan ini adalah kisah nyata sang penulis sendiri.

Penulis sepertinya juga ingin mengingatkan pembaca, bahwa masa kecil adalah masa2 rawan dalam perkembangan pematangan jiwa manusia. Trauma di masa kecil bisa mempengaruhi kejiwaan hingga dewasa. Pengajaran dan perlakuan di masa kecil juga akan sangat membekas kuat pada diri seseorang hingga dewasa.

Novel ini juga sedikit banyak mampu membuka mata pembacanya tentang situasi Afghanistan sejak masa damai hingga berbagai kekacauan yang terjadi selama beberapa dekade terakhir ini. Perubahan yang sangat mencolok digambarkan saat Amir harus kembali kesana setelah dua puluh tahun tinggal di Amerika. Gersang, hancur, miskin, penuh teror. Sementara penguasa Taliban hidup dalam kepongahan dan kemewahan.

Bukan Tentang Perang atau Islam

Meskipun pada beberapa bagian mengungkap latar-belakang peperangan, jangan khawatir akan menjumpai cerita yang penuh kekerasan dan pertumpahan darah. Pada sebagian besar cerita lebih mengungkap tentang gejolak batin Amir dan liku-liku kehidupan keluarga dan teman2nya.

Hanya beberapa scene saja yang menggambarkan perkelahian memperebutkan harga diri. Tapi beberapa perkelahian yang terjadi itu selalu mempunyai peran dalam merubah garis cerita. Satu perkelahian menjadi satu titik paling kelam, sementara perkelahian yang lain menjadi satu titik kemenangan penebusan dosa.

Meskipun berlatar belakang negara Islam, budaya dan ajaran Islam hanya disampaikan sebagai pelengkap cerita. Bahkan para pelaku utamanya juga dikisahkan sebagai pemeluk Islam yang tidak terlalu taat. Hanya Hassan dan Ali yang rajin melaksanakan shalat lima waktu.

Baba, ayah Amir, bahkan tidak menaruh hormat kepada para Mullah yang menjadi guru2 Amir. Bagi Baba, dosa hanyalah jika ia mencuri sesuatu dari orang lain. Mencuri hidup orang dengan membunuh, mencuri hak orang atas kebenaran dengan berbohong, mencuri hak orang atas keadilan dengan main curang, adalah hal2 yang diyakini Baba sebagai dosa, bukannya minum alkohol atau makan babi. Dan Amirpun marah hebat ketika di saat dewasa ia baru tahu bahwa Baba ternyata telah mencuri haknya untuk mengetahui kebenaran.

Mengalir Getir

Setiap kali aku membuka-buka kembali halaman novel untuk membuat review ini, kegetiran hebat selalu muncul ketika aku tiba di halaman2 saat Hassan dengan pengabdian totalnya harus mengalami titik terburuk di masa kecilnya. Apalagi penulisnya juga seolah mendramatisir kejadian itu dengan mengulang2 rasa penyesalan Amir atas kejadian itu di banyak halaman lain.

Pantaslah bila beberapa reviewer bilang bahwa mereka tak bisa berhenti menangis...