Sunday, July 24, 2005

Pupusnya Kuncup


23 Juli kemaren adalah Hari Anak Nasional. Kayaknya nggak kedengeran ada peringatan besar2an pada tahun ini. Mungkin memang lebih baik begitu, toh peringatan besar2an hanya akan menghambur2kan uang dan belum tentu hal yang lebih penting dalam masalah anak-anak ini bisa tersentuh dengan peringatan semacam itu. Walopun nggak ada peringatan besar2an, tapi kayaknya sebagian masyarakat cukup peduli dengan hari tersebut dan melakukan kegiatan2 sendiri untuk memperingatinya. Dan buat blogger ya tentu saja bikin posting soal hari anak dan masalah anak2 itu sendiri :D

Sebenernya sih aku juga nggak ada ide untuk bikin posting dalam rangka Hari Anak ini, tapi tadi sore aku nggak sengaja ngikutin "Metro Highlight" di Metro TV yang membahas masalah "Bunuh Diri Anak-anak". Dan aku cuma bisa terpana menyimak penuturan di program itu.

Miris

Kejadian terakhir yang sempat diungkap media adalah kejadian yang dialami Vivi Kusrini, anak kelas satu SMP di Bekasi. Vivi nekat gantung diri di kamar mandi rumahnya hingga tewas. Itu dia lakukan karena dia nggak tahan selalu diejek oleh teman2 sekolahnya sebagai "anak tukang bubur"... :( Kejadian2 sebelumnya cukup sering kita denger juga. Dari yang bunuh diri karena tidak boleh sekolah, tidak bisa bayar spp, tidak boleh ikut study tour dan beberapa lagi. Dan menurut data, jumlah anak yang melakukan bunuh diri beberapa tahun ini meningkat terus. Menyedihkan.

Apa yang terjadi sih? mengapa anak2 itu menjadi rapuh begitu dan nekat melakukan perbuatan yang tidak menyediakan pintu untuk kembali itu?

Sebagian besar dari mereka adalah anak2 dari keluarga dengan ekonomi yang tidak begitu baik. Dan alasan mereka nekat melakukan perbuatan itu juga diperkirakan terutama karena hal2 yang berhubungan dengan kelemahan ekonomi keluarga mereka.

Dan mengapa keterbelakangan ekonomi bisa begitu menjatuhkan semangat hidup mereka? Gimana nggak bakal jadi seperti itu kalo lingkungan yang ada saat ini adalah lingkungan yang sangat memuja materi. Pameran materi dan kemewahan dimana-mana, bahkan di kalangan anak2 yang bisa menimbulkan persaingan. Media massa yang mempromosikan bahwa hidup dalam kemewahan adalah kehidupan terbaik yang seharusnya dirasakan oleh manusia. Dan anak2 yang tidak bisa menikmatinyapun bisa merasa sebagai manusia paling sengsara.

Dan di sisi lain, media juga banyak mengungkap secara tidak langsung tentang cara2 mengakhiri hidup yang efektif melalui ekspos yang berlebihan terhadap berita2 kriminal dan sadisme. Anak2 pun jadi tahu bahwa obat nyamuk cair, gantung diri, memotong nadi, bisa menjadi cara untuk melenyapkan nyawa orang atau diri sendiri :(

Kenapa Sampai Sejauh Itu?

Apa memang anak2 itu sudah demikian putus asa, sehingga tidak mau hidup lagi? Padahal sebenarnya mereka kan baru melihat sepotong dua potong dari kejamnya kehidupan di dunia yang penuh ujian ini.

Atau sebenarnya itu hanyalah cara mereka untuk mendapatkan perhatian lebih besar sehingga keinginannya bisa lebih mudah terpenuhi? lha kalo kebablasan sampai akhirnya mati beneran, bagaimana mereka bisa merasakan hasil dari perbuatannya itu?

Atau mereka melakukan perbuatan ekstrim itu untuk menarik perhatian "ibu peri", "malaikat pelindung", atau kekuatan ajaib lainnya yang akan membantu dan mampu mengabulkan keinginan mereka seperti yang banyak mereka lihat sinetron2 di tivi....

Jiwa dan Emosi yang Masih Mentah

Anak2 memang adalah manusia dalam masa perkembangan. Mereka belum cukup matang untuk membuat keputusan atas hidupnya. Mereka masih harus banyak2 belajar, menyerap ilmu dari lingkungannya untuk membentuk pribadi yang dewasa dan mampu menghadapi tantangan2 hidup yang sebenarnya pada saatnya nanti. Jiwa dan emosi mereka masih dalam tahap pembentukan.

Ketika mereka berhadapan dengan lingkungan yang memuja materi, sementara mereka berada dalam dunia yang jauh dari kelebihan materi, merekapun mulai tersudut. Belum lagi dunia pergaulan anak2 yang kadang cukup kejam dalam melihat perbedaan kelas sosial. Hinaan2 sinis dari teman2nya yang culas semakin membuat mereka stress dan jatuh harga diri. Yup, dunia anak2 memang bisa sekejam itu.

Dan seringkali mereka tidak mempunyai kekuatan yang bisa menyeimbangkan kembali jiwa mereka. Tidak ada yang memahami keresahannya, menghiburnya, dan mengajarkan bagaimana seharusnya menghadapi kehidupan yang tidak cukup beruntung. Orang tuanya sibuk membanting tulang setiap saat agar tungku dapur tetap menyala, sudah cukup pusing dengan masalahnya sendiri. Guru di sekolah lebih mengutamakan kemampuan akademis, bukan pada pengembangan dan pembentukan perilaku dan emosi anak. Guru ngaji, kalopun ada, tidak jauh berbeda dengan guru di sekolah.

Antara yang Beruntung dan Tidak

Tantangan hidup di jaman ini memang semakin berat. Tuntutan materi semakin meningkat. Harga kebutuhan pokok yang meningkat satu persatu, biaya pendidikan yang semakin mahal. Belum lagi tuntutan dari lingkungan dan pergaulan yang secara sadar atau tidak menimbulkan persaingan dalam pencapaian materi.

Anak2 yang beruntung memiliki kehidupan yang berkecukupan, bisa memiliki sejumlah hiburan untuk mengatasi stress dari lingkungan. Sementara mereka yang tidak beruntung ekonominya, dan juga tidak mampu menjaga emosinya, bisa tenggelam dalam kesengsaraan. Musnahlah kuncup2 itu sebelum sempat berkembang.

Atau... sebagaimana kalimat dari Gie yang dikutip banyak orang. Apakah anak2 itu sebenarnya adalah manusia paling beruntung, karena mati muda?
I don't think so...