Sunday, January 14, 2007

Interpreter of Maladies

Sekali lagi sebuah buku yang berlatar belakang India. Dan kali ini nggak tanggung tanggung, ini adalah buku yang pernah memenangkan anugerah Pulitzer pada tahun 2000. "Interpreter of Maladies" karya Jhumpa Lahiri. Diterjemahkan oleh penerbit Gramedia dengan sub-judul "Penerjemah Luka", Desember 2006, 248 halaman.

Karya Jhumpa Lahiri yang lain sebelumnya sudah pernah aku review, yaitu "The Namesake". Buku yang ini sebenarnya adalah karya pertama Jhumpa Lahiri, lebih dahulu daripada "The Namesake", tapi entah kenapa "The Namesake" diterjemahkan dan diterbitkan lebih dahulu oleh Gramedia. Benang merah keduanya sangatlah kuat, yaitu kisah tentang orang2 India, terutama para imigran India di Amerika. Perbedaan yang jelas terlihat adalah "The Namesake" berupa novel, sedangkan "Interpreter of Maladies" adalah kumpulan cerpen.

9 Untai Cerita Pendek

Masalah Sementara. Shoba dan Shukumar yang telah menikah beberapa tahun mulai kehilangan kebersamaan yang pernah mereka alami. Pemadaman listrik di perumahan mereka setiap malam selama beberapa hari berhasil memaksa mereka untuk membangun komunikasi kembali.

Ketika Mr. Pirzada Mampir Makan Malam. Mr. Pirzada telah memiliki istri dan tujuh orang anak perempuan yang tinggal di Dacca. Ia mendapat beasiswa untuk belajar selama setahun di Boston. Hampir setiap malam ia mampir makan malam di rumah Orang tua Lilia, sambil menonton berita tentang negaranya di televisi. Saat itu, musim gugur tahun 1971, terjadi peperangan di Pakistan yang berakhir dengan berdirinya Bangladesh yang beribukota di Dacca.

Penerjemah Luka. Mr. Kapasi adalah seorang sopir mobil sewaan yang kerap berperan ganda menjadi pemandu wisata bagi para pelancong di India. Kali ini dia memandu satu keluarga imigran India yang telah lama tinggal di New York, Mr dan Mrs. Das dengan kedua anaknya Bobby dan Ronny. Selain menjadi sopir, Mr. Kapasi juga menjadi asisten seorang Dokter yang bertugas menterjemahkan keluhan para pasien yang hanya bisa berbicara dalam bahasa Bengali.

Durwan Sejati. Boori Ma adalah seorang wanita tua yang tiap hari kerjanya adalah menyapu tangga di sebuah gedung rumah susun sederhana. Sambil menyapu ia suka membual bahwa dulu ia pernah kaya raya. Penghuni gedung itu telah mempercayai Boori Ma sebagai penjaga (durwan) di gedung itu. Tapi semuanya mulai berubah ketika Mr. Dalal naik pangkat dan memasang wastafel bersama di bordes lantai dasar.

Seksi. Miranda diam diam menjalin hubungan dengan Dev, seorang pria beristri. Sementara Laksmi, teman kantornya, sibuk bercerita tentang saudara sepupunya yang tinggal di Montreal telah dikhianati suaminya. Hingga pada suatu hari Miranda diminta Laksmi untuk menjaga Rohin, anak laki2 saudara sepupunya itu, yang sedang bertandang ke Boston. Dan Rohin tahu benar, bahwa ayahnya telah pergi demi wanita lain.

Rumah Mrs. Sen. Mrs. Sen adalah wanita India, seorang istri dosen, yang di waktu senggangnya menawarkan diri menjadi pengasuh anak. Berbeda dengan yang lain, Mrs. Sen mengasuh anak di rumahnya sendiri. Elliot adalah anak asuhnya yang pertama, berumur sebelas tahun. Mrs. Sen sangat perhatian terhadap Elliot. Hanya satu masalah yang menjadi perhatian ibu Elliot, Mrs. Sen belum mampu menyetir mobil sendiri dengan baik.

Rumah yang Diberkati. Sanjeev dan Tanima, atau Twinkle, pasangan India yang baru menikah dan baru saja pindah ke rumah baru. Ketika sedang membereskan rumah barunya berturut-turut mereka menemukan benda2 bernuansa Kristen. Dari patung hingga lukisan. Sanjeev ingin menyingkirkan semua benda itu karena mereka adalah orang Hindu. Sementara Twinkle malah ingin menyimpannya.

Pengobatan Bibi Haidar. Bibi Haidar mengidap penyakit aneh sejak kecil. Tidak ada seorang dokter pun yang bisa menyembuhkannya. Sampai dewasa ia menjadi beban bagi keluarganya. Hingga seorang dokter menyarankan agar Bibi Haidar dinikahkan saja.

Benua Ketiga dan Terakhir. Tentang seorang pria India asal Bengali yang sempat bersekolah beberapa tahun di London. Kemudian mendapat tawaran bekerja di Amerika. Di Boston ia menyewa ruangan di sebuah rumah yang hanya dihuni Mrs. Croft, seorang wanita tua yang telah berusia 103 tahun. Dalam percakapan2 pendek mereka terjalin hubungan yang saling menghormati, yang tetap terjaga hingga berpuluh tahun kemudian.

Sederhana Namun Menarik

Seperti juga "The Namesake", kekuatan dari karya Jhumpa Lahiri ini adalah cara bertuturnya yang sederhana, ditambah dengan detil2 yang menarik tentang keseharian dan budaya orang India. Tidak ada cerita yang njelimet yang menuntut pembaca untuk berpikir keras mengikuti ceritanya atau mencari makna di balik cerita. Semuanya tergambar dengan jelas, sehingga sangat mudah diikuti. Meskipun seringkali ada detil2 yang dijelaskan panjang lebar tapi ternyata tidak punya peran dalam cerita inti.

Fragmen2 kehidupan yang diangkat oleh Jhumpa Lahiri kebanyakan adalah potongan kisah yang juga sederhana, tapi menarik untuk diikuti. Tidak ada kisah tentang sesuatu yang sangat besar dan bombastis, semuanya tentang keseharian yang mungkin kita juga pernah menghadapi. Sehingga pembaca bisa larut dengan mudah, melebur dalam ceritanya.

Jhumpa Lahiri menuliskan semua kisahnya dalam suasana yang tenang. Nyaris tidak ada yang ditulis dengan menggebu-gebu penuh emosi. Hanya sedikit terjadi pertengkaran antar tokoh dalam cerpen2nya, hanya ada di "Durwan Sejati" saat penghuni gedung menuduh Boori Ma, lalu sedikit pertengkaran antara Sanjeev dan Twinkle di "Rumah yang Diberkati". Sisanya adalah suasana kehidupan yang tenang, meskipun ada masalah tapi semuaya terkendali dengan baik.

Tentang Orang2 Terasing

Tema sentral dari cerpen2nya tentulah tentang kehidupan orang India, terutama yang berada di negeri orang. Dan dari cerita kehidupan mereka itu tampaklah satu garis yang cukup nyata tergambar dari kisah2 itu, tentang keterasingan. Bukan hanya tentang para imigran yang harus beradaptasi dengan negeri barunya, tapi juga tentang orang2 tidak beruntung yang diasingkan oleh lingkungannya seperti Boori Ma dan Bibi Haidar.

Dalam kesepian dan keterasingan mereka berusaha menemukan jalan hidup mereka masing-masing, dimana mereka bisa berjalan melanjutkan hidup. Yup, meskipun dituturkan dengan emosi yang tenang tapi ada semburat semangat dan optimisme yang ingin ditularkan penulisnya melalui para tokoh yang berhasil melalui masalah mereka masing2.

Tetapi membaca cerpen memang berbeda dengan membaca novel. Kita tidak bisa menuntut sebuah cerita utuh yang mendetil dengan ending yang menjelaskan semuanya. Sebuah cerpen kadang hanya menampilkan sepotong kisah kehidupan yang menarik tanpa kesimpulan akhir.