Monday, August 25, 2008

Novel Pangeran Diponegoro (Menuju Sosok Khalifah)

Novel Pangeran Diponegoro, buku ke-2Judul : Novel Pangeran Diponegoro
Episode : Menuju Sosok Khalifah (Buku ke-2)
Penulis : Remy Silado
Penerbit : Tiga Serangkai
Edisi : Cetakan I, Maret 2008, 435 hlm


Ternyata benar bahwa Novel Pangeran Diponegoro, episod "Menggagas Ratu Adil", adalah baru satu bagian dari tulisan lengkap Remy Silado yang mengupas kisah dan kehidupan pahlawan legendaris Indonesia Pangeran Diponegoro. Buku kedua telah diterbitkan dengan subjudul "Menuju Sosok Khalifah", masih dari penulis dan penerbit yang sama.

Tidak jelas akan ditulis dalam berapa buku fiksi sejarah Pangeran Diponegoro ini. Bahkan di akhir buku pertama dan kedua sama sekali tidak dicantumkan akan adanya buku lanjutannya. Apakah karena tidak berani memberikan janji bahwa buku ini akan dilanjutkan? Sebagaimana beberapa buku Remy Silado yang lain yang seharusnya ada lanjutannya tapi sampai sekarang masih dibiarkan menggantung...

Ringkasan Cerita:

Masih tetap dijembatani oleh prolog dari masa sekarang. Wartawan wanita bernama Ratnaningsih sedang mengorek kisah hidup Pangeran Diponegoro dari seorang lelaki tua yang menurut pengakuannya adalah keturunan langsung Pangeran Diponegoro yang tinggal di Tondano.

Cerita tentang Diponegoro sendiri pada episode ini dimulai dengan kisah cintanya dengan seorang gadis yang juga bernama Ratnaningsih. Kisah cinta itu berlanjut hingga ke pelaminan, menjadi pernikahan pertama dari anak Sultan Hamengkubuwono III. Diponegoro awalnya menolak segala prosesi adat kraton untuk pernikahannya, namun pada akhirnya ia tetap harus mengikuti adat jawa walaupun pernikahannya itu diselenggarakan di Tegalrejo bukan di Kraton.

Musuh utama Diponegoro dalam novel ini ternyata bukanlah Belanda yang menjajah tanah Nusantara, tapi adalah pejabat Kraton sendiri yang menjadi antek Belanda. Danurejo IV yang diangkat sebagai patih dari Sultan Hamengkubuwono III adalah pengkhianat besar yang rela menjual bangsa dan tanah airnya demi harta dan tahtanya sendiri. Danurejo IV bahkan tega menjegal Sultan yang seharusnya ia junjung tinggi.

Di novel ini Pangeran Diponegoro telah mendekati usia 40 tahun. Usia yang ia janjikan sebagai saat ia akan menjadi pemimpin rakyat dan menegakkan keadilan. Diponegoro telah berani menunjukkan posisi yang ia yakini sebagai posisi terbaik untuknya. Ia menolak jabatan Sultan ketika Ayahnya mangkat, hingga adiknya Jarot yang baru belasan tahun yang dilantik sebagai Sultan Hamengkubuwono IV. Diponegoro juga menolak jabatan apapun di Kraton, karena ia anggap Kraton sudah jauh dari kondisi ideal.

Di bagian2 akhir Diponegoro berani menentang dan melawan Danurejo IV secara langsung, dan kemudian menentang Residen Belanda. Penentangan itu tentu memicu kemarahan Belanda. Tegalrejo pun dikepung. Buku ini ditutup dengan larinya Pangeran Diponegoro dan keluarganya dari Tegalrejo menuju Selarong. Awal dari meletusnya Perang Jawa.

Riset Lengkap

Sekali lagi novel ini patut diacungi jempol untuk sumber data dan riset yang sudah repot-repot dilakukan oleh Remy Silado. Seringkali ia mencantumkan footnote yang menjelaskan dari sumber mana diperoleh data kejadian yang ia tulis dalam sebuah adegan. Bahkan mungkin dengan menghilangkan dialog dan adegan rekaan novel ini bisa juga menjadi acuan sejarah.

Dari sini pembaca akan dapat mengikuti perkembangan konflik politik di Kraton Yogyakarta pada masa sekitar tahun 1815 hingga 1825. Dimana pada rentang sepuluh tahun itu terjadi pergantian hingga tiga orang Sultan. Pada masa itu Kraton ditekan dan didikte tidak hanya oleh Inggris dan kemudian kembali ke penguasa Belanda, tapi juga didikte oleh orang2 Jawa sendiri yang memperjuangkan kepentingan pribadi.

Tambahan yang menarik adalah pembahasan tentang peran kaum pendatang asal Cina yang ternyata ikut andil dalam kisah perjuangan Pangeran Diponegoro. Meskipun kebanyakan peran mereka adalah dimanfaatkan sebagai alat oleh orang2 yang culas dan licik.

Karakternya Kuat, Dari Yang Licik Hingga Yang Berkharisma

Dari segi pembangunan karakter, Remy cukup berhasil mereka-reka masing-masing tokohnya. Pembaca akan dibawa benar-benar membenci karakter Danurejo IV yang oportunis dan menyebalkan. Dan kemudian akan menjadi puas saat Pangeran Diponegoro sempat menghajar Danurejo IV di depan umum. Tokoh-tokoh pejabat Belanda juga dihidupkan dengan karakter yang arogan dan licik. Hanya Marlborough penguasa dari Inggris yang digambarkan bersahabat dan tetap menghormati Kraton (hingga nantinya kawasan pecinan Yogyakarta dikenal dengan namanya dalam ejaan yang berbeda, Malioboro)

Di lain pihak karakter Pangeran Diponegoro sendiri juga berhasil diwujudkan sebagai orang yang berwibawa dan penuh kharisma. Pendiriannya tegas namun tetap menghargai orang yang memang patut dihargai. Meskipun sayangnya di awal novel ini Pangeran Diponegoro digambarkan menjadi lembek saat sedang dimabuk cinta kepada Ratnaningsih.

Penuturannya Kurang Pas

Tapi...

Cara bertutur Remy Silado di novel ini masih belum berubah dari buku pertamanya. Jadi untuk pembaca yang kurang bisa menikmati cara bertutur Remy Silado di buku pertama, jangan berharap banyak ada perubahan di novel kedua ini :)

Remy kadang membuat reka adegan yang sangat mengalir mudah dipahami, tapi di bagian lain ia menuliskannya seperti sedang membuat ringkasan sejarah dengan bahasa dokumenter. Belum lagi saat ia menuliskan secara detail perhitungan neptu dalam adat pernikahan jawa, lalu penjabaran detail lagi tentang prosesi pernikahan jawa. Aku bertanya-tanya, lho kok jadi diisi Primbon begini?

Kemampuan Remy menguasai banyak bahasa memberi warna-warni dalam novel. Di novel ini ada sisipan bahasa Jawa, Belanda, Inggris hingga Arab. Dalam bertutur ia juga banyak memasukkan kosa kata bahasa Jawa tanpa penjelasan makna, yang kadang aku sendiri sebagai orang Jawa tidak begitu paham artinya. Lalu mungkin karena terlalu banyak bahasa yang dikuasai, Remy juga sempat membuat blunder dengan memasukkan bahasa lain yang sama sekali tidak ada kaitan dengan setting cerita ini. Ada kata "keukeuh" dari bahasa Sunda, dan makian "pukimak" dari Sumatera yang terselip di novel ini.

Masalah bahasa yang mungkin cukup mengganggu adalah saat Remy memasukkan dialog bahasa Jawa dalam dialek Cina. Pada bagian itu ia hanya memberikan terjemahan dalam bahasa Jawa bukan bahasa Indonesia. Lalu bagaimana pembaca yang tidak mengerti bahasa Jawa bisa memahami teks itu?

Satu kebiasaan menulis Remy yang tidak begitu aku sukai adalah, ia suka membocorkan sedikit kejadian yang belum terjadi dengan memberikan sebuah anak kalimat tambahan yang diawali dengan "yang nantinya..". Hal yang tidak perlu itu malah merusak alur cerita menurutku.

Ada lagi satu hal kecil lain. Novel ini ditulis dengan penuturan orang ketiga yang tidak terlibat dalam cerita. Tapi Remy pada beberapa bagian lebih sering menggunakan kata penunjuk "ini" daripada "itu" dalam narasinya. Seperti misalnya "rumah ini", "malam ini", "hari ini". Terasa janggal jika penuturnya adalah orang ketiga yang di luar cerita.

Begitulah, banyak hal kecil yang menyebabkan novel ini kurang nyaman dan mengalir dibacanya. Padahal isi kisahnya sebenarnya menarik dan penting untuk diketahui sebagai referensi kisah perjuangan bangsa Indonesia. Entahlah nanti jika muncul buku kelanjutannya apakah aku akan beli dan membacanya lagi...